Wisata Kuliner Pasar Kamu Deli Serdang, Obat Kangen Jajanan Tradisional

Wisata Kuliner Pasar Kamu Deli Serdang, Obat Kangen Jajanan Tradisional

Rita Sianipar dan keluarga jauh-jauh dari Kota Medan ke Pasar Kamu hanya untuk sarapan dan mencicipi aneka jajananan tradisional. Lokasi wisata kuliner yang mereka tuju beralamat di Jalan Perintis, Dusun II, Desa Denai Lama, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.

Menurut Rita, perjalanan menuju Pasar Kamu butuh perjuangan lumayan. Dia dan keluarga berangkat selepas salat subuh dan bertekad harus tiba di lokasi pukul 07.00 WIB agar dapat menu makanan yang masih lengkap. Perjalanan ke sana berjarak sekitar 32 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam dengan kendaraan.

“Kalau sampai di sana pukul 10.00, menu makanannya tinggal sedikit. Kami sudah dua kali ke sana,” kata Rita, 49 tahun, kepada Tempo, Jumat, 17 September 2021. “Suasana perdesaannya sangat terasa dan makanan tradisional yang dijual enak-enak, harganya merakyat.”

Berada di Pasar Kamu membuat Rita bisa bernostalgia ke masa kecil. Di pasar kuliner seluas satu hektare itu, dia bisa menemukan jajanan pasar yang susah dia temukan di Kota Medan. Di antaranya gatot, tiwul, dodol, grontol, dan apem gula merah. Rita dan keluarga sempat mencicipi lontong sayur, apem, wedang jahe, dan kolak pulut durian.

Pendiri Pasar Kamu, Dedy Sofyan mengatakan, banyak orang seperti Rita yang datang ke Pasar Kamu hanya untuk bernostalgia. Pasar Kamu memang didesain layaknya pasar rakyat tradisional yang menjajakan penganan tempo doeloe dengan dominasi selera Jawa dan Melayu, sesuai mayoritas suku yang tinggal di Kampong Lama, nama lawas Desa Denai Lama.

Pelafalan kampong lazim dipakai di Pulau Sumatera, terutama di pesisir pantai timur Sumatera Utara (dulu Karesidenan Sumatera Timur) yang dikenal daerah konsentrasi puak Jawa dan Melayu. “Kami menjalankan usaha bersama masyarakat dengan berbasis kebudayaan yang ada di Kampong Lama. Usaha yang kami kelola adalah pekan sarapan yang buka setiap hari Minggu,” kata Dedy yang dihubungi Tempo dari Kota Malang.

Menurut Dedy, selain kue tradisional khas Jawa, pengelola Pasar Kamu juga menawarkan penganan tradisional khas Melayu yang sudah sangat jarang ditemukan. Bahkan sebagian sudah terlupakan dan cuma hidup dalam ingatan orang-orang tua. Misalnya kue rasida, kue dangai, kue kekaras, kue lempeng torak, kue pulut panggang, dan kue makmur.

Pasar Kamu buka sejak 9 Agustus 2020 oleh Kawan Lama Area. Dedy juga memimpin komunitas ini bersama Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Deli Serdang. Anak-anak muda Kampong Lama menjadi motor penggerak Pasar Kamu yang merupakan sentra sarapan berbasis pelestarian makanan tradisional agar generasi muda tak melupakan kuliner Nusantara.

Dedy mengakui kebanyakan menu berasal dari khasanah kuliner Jawa dan Melayu. Namun demikian, di Pasar Kamu juga tersedia hidangan khas Batak, Aceh, Tionghoa, dan daerah lain. “Memang tidak banyak, tapi ada. Tergantung penjual dan ketersediaan bahan. Yang jelas, semua makanan di sini tidak menggunakan pengawet, pewarna buatan, dan penyedap rasa. Benar-benar seperti makanan orang-orang dulu,” ujar Dedy.

Saat ini terdapat 220 menu, baik minuman dan makanan yang dijual 152 pedagang Pekan Sarapan. Jumlah wisatawan yang datang ke Pasar Kamu sekitar 700 sampai 800 orang sehari. Sebagian besar dari luar Pantai Labu, terutama dari Kota Medan dan Kota Lubukpakam, ibu kota Kabupaten Deli Serdang.

Pasar Kamu hanya buka saban Ahad atau Minggu, mulai pukul 07.00 sampai 11.00 WIB. Sebab itu, wisatawan yang ingin ke Pasar Kamu harus betul-betul memperhatikan waktu operasional itu supaya tidak kehabisan makanan dan minuman yang dirindukan orang-orang seperti Rita.

Menariknya, Pasar Kamu tidak menggunakan uang rupiah untuk bertransaksi. Pengelola Pasar Kamu menerapkan kebijakan penggunaan alat tukar bernama tempu, yakni potongan tempurung kelapa berukir dan dibentuk menyerupai koin. Total, ada 5 ribu tempu yang tersedia.

“Tempu itu sebutan lokal di Kampong Lama,” ujar Dedy yang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP) Medan. Dedi menjelaskan, ukiran tempu bergambar tanaman padi yang bermakna sebagai hajat dan kelangsungan hidup, serta kecintaan pada alam dan lingkungan.

Daun padi yang menunduk melambangkan kearifan. Tiga tangkai padi simbol tiga alam, yaitu darat, laut, dan udara. Sedangkan titik di atas tangkai menggambarkan pengabdian pada kebenaran dan keberpihakan pada rakyat. Satu tempu setara Rp 2.000. Para pengunjung harus menukarkan dulu uang rupiah di gerai atau konter pembayaran. Harga termurah makanan dan minuman di Pasar Kamu senilai dua tempu (Rp 4.000) dan termahal lima tempu (Rp 10 ribu).

Kampung Lama Area selaku pengelola Pasar Kamu tidak membatasi jumlah pembelian tempu oleh pengunjung. Jadi, wisatawan bisa jajan sepuasnya dengan menyerahkan tempu kepada pedagang yang berpakaian kebaya dan tutup kepala caping. Namun demikian, tempu dan makanan tidak boleh dipesan lebih dulu. Tiada pula sistem reservasi tempat. Kebijakan ini berlaku supaya ada kesetaraan dan keadilan bagi semua pengunjung.

Sambil menikmati makanan dan minuman di bawah kerindangan daun bambu dan pohon melinjo, para wisatawan bisa menikmati suguhan pentas seni tradisional, seperti gamelan dan gambus, serta permainan tradisional seperti egrang dan congkak atau dakon. Selain relatif dekat dari Kota Medan, orang-orang dari Jakarta atau Bandung bisa langsung ke Pasar Kamu di hari Minggu. Lokasi Bandar Udara Internasional Kualanamu dan Pasar Kamu terpaut jarak 14,9 kilometer atau 1 jam perjalanan.

Nalyka HumairahTragedi dalam kehidupan adalah saat kita terlalu cepat menjadi tua, namun terlambat untuk jadi bijaksana

Posting Komentar untuk "Wisata Kuliner Pasar Kamu Deli Serdang, Obat Kangen Jajanan Tradisional"

Silakan tinggalkan komentar. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *